Friday, March 9, 2012

Akhir yang Sementara

"Gimana bisa gue tetep ada buat lo, sementara lo selalu hidup dengan dunia lo sendiri? Gue harus gimana menghadapi lelucon lo ini? Jawab gue. Inka. Jawab gue."

Bayu memandang inka dengan intens, ya Inka yang tidak akan pernah memandang mata Bayu jika sedang mengalami masalah.

"Gue harus jawab apa Bay?"

"Oke, gue yang akan mulai. Lo itu terlalu bunglon ka buat gue, terlalu warna warni diantara hitam putih hidup gue. Satu pihak lo udah warnai hidup gue belakangan ini. Otak lo yang aneh, Cara berpikir lo, berbagai kecerobohan lo. Tapi di pihak lain semakin banyak gue tau tentang lo, semakin banyak pula hal-hal yang gue gak tau dari lo. Lo selalu memiliki hal-hal baru yang bahkan gue yang hampir selalu di sebelah lo pun gak tau, tapi orang-orang laen tau. Ibaratnya, sekamin banyak tentang lo yang gue tau, gue hanya malah semakin berada di permukaan. I never knew your deep down side, Inka."

"Kamu mengetahui itu semua, karena kamu hanya ingin sekedar tau, bukan memahami. Gue butuh di pahamin, dan yang selama ini gue liat, you just heard me, and not listened me. Bisa ngerti gak sekarang?"

****

Luapan emosi ini pun tak pernah berbalas. Inka memilih untuk pergi daripada melanjutkan pertengkaran. Meninggalkan Bayu dengan sejuta pertanyaan.


****

"Kebiasaan lo yang sering bilang "yaudalah lupakan" rasanya lo kayak gak hargain keberadaan gue tau?! satu pihak lo bilang butuh gue, satu pihak lagi seketika lo buang gue gitu aja kayak gak guna! Lo sadar gak?!"

"Itu karena lo sering banget lama ngeresponnya! Lo terlalu lama buat feedback apapun! Lo pikir sampe berapa lama gue bakal sanggup nunggu lo?! nunggu semua jawaban lo. Gue capek nunggu, Bay. Sementara lo ga ada respon sama sekali. Lo yang bilang sayang gue, tapi lo sendiri gantungin gue dan hubungan kita. Apa yang masih lo cari Bay?"

"Banyak yang harus gue pertimbangin, Ka. Ga semudah itu yang namanya pacaran. Kita udah bahas berkali-kali kan? Gue gak sanggup komitmen. Gue gak bisa terikat, Ka. Dengan gue yang seperti ini, dengan lo yang hidup di dunia lo sendiri, dengan... "

"Wait! What did you just said? Gue? hidup dengan dunia gue sendiri? Hoaah! Come on! Bukannya lo? Yang tiap di sapa pun datar-datar aja, jutek, dan sering bilang sibuk? Lo ga pernah bawa gue ke dunia lo.. Gue selalu berusaha ngajak lo gimanapun dunia gue akan pergi, tapi lo ga pernah bisa ada buat gue, Bay.. Gue terlalu lelah untuk semua arguing ini,,"
**** 
on the phone
"Ka? Udah tidur? Kita harus selesein ini. Minggu depan gue udah cabut dari kota ini. Please?"
"Kamu mau tau apa penyelesaian aku? Go get your dream and I'll wait you here. Gue ga tau sanggup ato ga, kita ga akan tau kalo gak di coba. Reach our own dreams, untill we meer again, we've got balance with ourself. Oke?"

"Oke. Tunggu gue balik ka. Jangan merasa lelah, 3-4 bulan lagi gue akan dateng ke lo. Jaga diri baik-baik ya, jangan ceroboh selama gue ga ada, jangan sakit, jangan banyak nangis"

"Eat well, sleep well, live good, work hard, keep smart don't be stress ya bay. I'll miss you"

klek. Inka mengakhiri telepon. Akhir yang sementara.

Saturday, January 28, 2012

“Kepada langit,
Seandainya bisa, saya ingin minta tolong sampaikan isi surat ini. Tentang apa yang saya lakukan hari ini, disini, apa yang saya rasakan di taman ini, dan bagaimana sampai saya bisa berada di taman ini. Tolong sekali ya langit, karena bahkan sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Tolong sampaikan kalau saya membutuhkan dia. Itu saja.
DRK”
 
#NowPlaying Snow Patrol – Chasing Cars                                            20.00 WIB, Taman Menteng
"We'll do it all, Everything, On our own
We don't need, Anything, Or anyone

If I lay here, If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?

I don't quite know, How to say, How I feel
Those three words, Are said too much, They're not enough

Forget what we're told, Before we get too old
Show me a garden that's bursting into life

Let's waste time, Chasing cars, Around our heads
I need your grace, To remind me, To find my own

All that I am, All that I ever was
Is here in your perfect eyes, they're all I can see

I don't know where, Confused about how as well
Just know that these things will never change for us at all

If I lay here, If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?"


Rafsa kembali terduduk di tempat ini. Tempat yang lebih dari satu bulan atau mungkin 2 bulan, tidak ia datangi bersama Tara. Tempat ini hanya berupa sebuah parkiran bertingkat. Tempat penuh kenangan bagi Rafsa ini terletak di tingkat paling atas, beratapkan langit. Sejujurnya, tempat ini hanya parkiran sederhana, namun tempat ini menampung sangat banyak kenangan persahabatan mereka. Rasa sesak kembali menyesapi Rafsa. Entah karena udara dingin, ataupun karena rasa kehilangan yang sangat besar. Rafsa memutuskan menuliskannya di secarik kertas, ditujukan kepada langit malam ini :

“Kepada langit,
Seandainya bisa, saya ingin minta tolong sampaikan isi surat ini. Tentang apa yang  saya lakukan hari ini, disini, apa yang saya rasakan di taman ini, dan bagaimana sampai saya  bisa berada di taman ini. Tolong sekali ya langit, karena bahkan sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Tolong sampaikan kalau saya membutuhkan dia. Itu saja.
                                                                                                                                                DRK”
Rafsa memperhatikan surat itu sekali lagi. Menahan tangisnya jangan sampai keluar. Tidak. Tidak ada lagi yang boleh membuatnya menangis. Tidak oleh apapun. Oleh siapapun. Meskipun Rafsa tahu, semakin di pendam rasa pedih ini, justru semakin terluka hatinya. Rafsa kemudian melipat kertas tersebut menjadi sebuah pesawat-pesawatan kertas. Kemudian ia berdiri dan menyandarkan diri pada tembok pembatas di parkiran bertingkat lima ini.
Sebelum menerbangkan pesawat-pesawatan kertasnya, Rafsa berdoa;  Langit, saya tidak tahu bagaimana kau akan menyampaikan pesan ini, melalui hembusan angin, gemersik dedaunan, atau sekalipun melalui rintikan hujan. Saya tidak tahu. Saya hanya berharap pesan ini tersampaikan. Terima kasih langit.
Dalam malam yang hening, hanya terdengar isakan halus tangis Rafsa. Tangis yang pada akhirnya tak sanggup lagi dibendungnya. Waktu telah menunjukkan jam 10 malam, dan pesan pesan BBM lagi-lagi hanya telah menunjukkantanda telah dibaca oleh Tara, namun tak ada balasan. Tidak pernah ada lagi.  Sejak beberapa minggu yang lalu. Ratusan pesan BBM pun seperti buah yang ranum di pepohonan tanpa ada seorangpun yang memetik hinggamembusuk di pohonnya. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi ini hanya persahabatan. Oh tidak. Dalam kamus Rafsa, persahabatan bukan hanya, tapi segalanya. Tapi apakah ini ternyata juga cinta?

****


Tara
#NowPlaying – Peter Pan – Menghapus Jejakmu
"lelah hati perhatikan sikapmu, jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan

perlahan mimpi terasa mengganggu, kucoba untuk terus menjauh
perlahan hatiku terbelenggu, kucoba untuk lanjutkan hidup

engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku
usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu"

Gol demi gol dicetak Tara di lapangan futsal ini. Seperti biasa Tara menghabiskan Kamis malamnua di lapangan ini.  Juga, malam ini. Telah lebih dari 1 minggu pula Tara tidak menghubungi Rafsa. Bukan karena marah, ataupun benci. Namun, ia takut akan harapan yang terlalu tinggi itu berbuah patah hati.
“Rasf, lo apa kabar? Pasti lo marah banget deh sama gue. Tinggalin lo tiba-tiba. Semoga lo baik-baik aja Rafs.”
Tara hanya memandangi foto Rafsa di BBMnya. Tara tersenyum dengan tingkah aneh-aneh Rafsa jika di depan kamera. Hanya memandanginya. Sudah cukup bagi Tara. Meski banyak BBM yang masuk dari Rafsa, taidak ada yang digubrisnya, walau satu. Mulai dari isi pesan Rafsa yang berbunyi kebiingungannya mencari Tara, isi pesan Rafsa yang sok melucu, isi pesan Rafsa yang mengkhawatirkannya; isi pesan yang marah-marah, hingga isi pesan Rafsa yang berbunyi :
“Taaarrr... Gue ngerti kok lo butuh waktu buat sendiri. Lo butuh waktu untuk berdamai dengan perasaan lo.. Gue care sama lo, tapi kalo lo cuekin gue gak ada sebab gini, buat apa gue tetep care? Mulai detik inigue gak akan peduli lagi sama lo. Karena persahabatan kita udah gak jelas kayak musuhan gini. Gak ada gunanya.”
Pesan tersebut baru Tara baca setelah sampai dirumahnya. 22.00 WIB. Tara memandang jam digital di meja belajar di kamarnya.
Kalau harus jujur pada diri sendiri, Tara juga merasa sangat kehilangan peri yang membuat hari-harinya hidup kembali. Peri keceriaannya Tara yang selalu menyebut diri sendiri malaikat. Mungkin Rafsa memang malaikat. Malaikat buat semua teman-temannya, semua orang. Bukan malaikat buat dirinya seorang, buat Tara. Tapi itu inti masalahnya. Kemari-kemarin, selama 1 bulan Rafsa telah mengisi hari-harinnya pagi, siang dan malam. Sahabat. Ya, itu masalahnya. Rafsa memang telah berhasil mengobati luka hati Tara akan mantannya, Rafsa memang tipe sahabat yang peduli dengan sahabatnya. Hanya sampai titik sahabat. Mentok. Dofani Rafsa Kinanti!!! Kehadirannya yang intens, perhatiannya yang sangat cukup, telah meracaukan hidup Tara. Terutama hatinya. Tara tahu hanya akan ada luka jika persahabatan ini tetap dilanjutkan. Bukan luka pada Rafsa. Melainkan pada dirinya. Hatinya.
Beebb Beeebbb....


Dofani Rafsa Kinanti - loner :(
22.30 WIB
o  Tara tarra taaaraaaa
o  Masih butuh waktu sendirian?
o  Gue kesepian :(




****
3 minggu yang lalu...

Dofani Rafsa Kinanti - It’s Ma day!!!
Kata orang-orang ahli ngeramal, dan kata zodiak di majalah manapun, orang-orang yang yang berzodiak Cancer pasti tidak akan cocok dengan lawan jenisnya yang berzodiak Aquarius. Tetapi tidak bagi Rafsa. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan Rafsa merasa hari ini segalanya berjalan dengan sempurna. Ucapan ulang tahun dari teman-temannya baik melalui sms, telpon, jejaring sosial, dan BBM. Ditambah sang pedekate-an, begitulah Rafsa menyebutnya, juga mengucapkan selamat ulang tahun via Y!Messengger. Cowok ya sangat dikagumi oleh Rafsa memang sangat kaku, namun seringkali ia melakukan banyak hal yang membuat Rafsa tersanjung.
Yang juga membuat hari ini tambah lengkap adalah sahabatnya, sahabat pria, yang hampir satu bulan ini menemani hari-harinya ditengah kesibukan skripsi yang amat menggila.
Krriiing... krriiiing... penanda ada BBM masuk.

Tara Alinnga Wibisono - Cake's Day Dreamer! :)
06.43 WIB
o  Selamat ulang tahun  pemimpiii
o  Selamat ulang tahun  boneka beruang
o  Selamat ulang tahun malaikat keceriaan
o  Semoga di usia yang bertambah,
o  Sifatnya juga tambah dewasa, gak ngambek mulu,
o  Dan bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi lo
o  Biar jadi kenyataan..
oSayang sekali sama Rafsa :* nge date yuk!



Friday, January 27, 2012

Untouchable Man, “I don’t need words”

“Ayo As! Olahraga As! Olahraga! Biar kurus katanya mau kurus kayak geng cantik-cantik itu... “, sindir Pram yang mengajak Aska jalan kaki dari kostan temen di Margonda menuju kampus di bilangan Depok. Sementara Aska yang bertubuh padat sudah ngos-ngosan jalannya, hari itu mereka di kejar quiz di kelas yang sebentar lagi akan mulai.
Pramoedya namanya, dan dia selalu berkata, “Aska, anggep aja gue Pramoedya Ananta Toer, idola lo itu..”, sambil tersenyum menggoda. Tentu saja itu hanya sekedar harapan kosongnya.
“ASKA! Woi! Kok bengong?! Lo gak mau pingsan kan? Repot tar gue gotongnya.. hehehe”, lalu sebelum Aska sempat sadar dengan leluconnya dia sudah lari kabur..
“PRAAAMMM!!!!”, Aska pun berlari mengejarnya.
Aska sudah hampir setahun berteman dengan Pram, mulai awal semester 3 ini saat kita tergabung dalam suatu kelompok tugas kuliah yang terikat selama satu semester. Saat ini, semester 6, kami berada di kelompok yang sama lagi. Mentok kali ya tidak ada kelompok lagi?! Hehehe.
*************************
“Pram, nanti malem confrence ya di YM! Kita harus ngebahas nih kelanjutan tugas! Gue juga dah ajak Maya, Tama, en Haqi. Gue balik duluan ya,” seru Aska sambil melambaikan tangan saat jam kuliah selesai. “Lu gak pulang ke kostan ka?” tanya Pram. “Gak, nyokap sendirian dirumah, kakak gue dua-duanya lagi tugas di luar kota. Sorry ya, ketemu di internet aja.” Aska tersenyum meminta pengertian.
“Oke-oke hati-hati ya ka di jalan! Jangan sambil maen hape!” Pram mengingatkan.
Hampir satu tahun Aska berteman dengan Pram. Namun, Aska tidak tahu banyak tentangnya. Ada sisi lain dari dirinya yang tak bisa Aska kenali. Pram begitu pendiam, atau lebih tepatnya dia seperti berjalan dengan pikirannya sendiri. Pram tidak pernah mencampuri urusan orang lain dan tidak pernah ketergantungan sama orang lain, baik ke kantin, mau ke kampus, ke kelas, maupun pulang balik ke kostan atau ke rumah. Keberadaannya pun saat tingkat satu antara ada dan tiada. Aska hanya mengetahui dia bernama Pramoedya. Hanya itu.
Setelah sekarang mereka berteman, informasi-informasi tentang dirinya bahkan hanya datang dari ucapan-ucapan yang tidak Pram sadari saat tengah bercerita-cerita. Mereka dekat, namun sosok seorang Pram tetap tak tergapai. Sedekat-dekatnya siapapun dengan Pram, ya hanya sebatas ngumpul di kelas, bahas tugas, gadget, fotografi, game dan hal-hal berbau cowok lainnya.
Pernah Aska mengorek-ngorek dari Haqi, salah satu yang dekat dengannya, “Haq, Pram suka cerita-ceritaan sama lo kayak gue sama Maya gak sih? Soal pacar, mantan gitu-gitu.. kayak lo kan terbuka tuh barusan cerita-cerita tentang lo dulu SMA dan tentang mantan lo.. hehehee”, jujur saat itu Aska kepo sekali. Haqi hanya menjawab “Gak, gak pernah kayak kita bertiga barusan cerita-cerita, dulu pernah gue iseng nanya tentang mantannya.. ya jawabannya rada gak enaklah.. kayaknya dia ga mau ungkit-ungkit tentang mantannya gitu..” Woooooww mereka bertiga memang sekawanan kepo!
Waktu akhir semester 5, saat Aska bercerita-cerita bahwa Maya akan backpacking ke Bangkok dan Chiang Mai, Pram mengatakan “Gue juga mau ke Kamboja ka. Mau ke Siam Riep. Lo ga kemana-mana libur 1 bulan?”, Aska hanya menggelang lesu. Tidak mungkin Aska liburan sementara urusan kuliahnya di tempat yang lain belum terselesaikan. Dari situlah Aska mengetahui, Pram hoby ke luar negeri mengunjungi tempat-tempat sejarah. Persepsi Aska tentang Pram, sudah pasti dia berwawasan luas.
*************************
Kesibukkan tugas-tugas kuliah berkelompok mengakibatkan Aska menjadi lebih sering bersama Pram. Dari riset-riset untuk produksi film, mencari data dan urusan administrasi lainnya. Mereka sering bepergian berdua menggunakan kereta, angkot, dan bis. Sepanjang perjalanan Aska pun mendapatkan hal-hal baru dari Pram, diantaranya, dia suka menggigit kuku-kuku di jari tangannya saat gugup dan bingung, dan yang paling lucu adalah saat dia bertingkah seperti anak kecil saat sedang berada di lantai 19 sebuah gedung untuk urusan tugas kuliah. “Aska, gimana kalo kita nunggu kliennya di lobby bawah aja?” “Aska, gimana kalo kita beli minum dulu di bawah?” “Aska, gimana kalo lo aja yang ketemu klien, gue tunggu di bawah?” dan akhirnya Pram mengakui kalau dia sangat takut pada ketinggian dan gedung-gedung tinggi.
“Lah tiap naek pesawat keluar negeri, gimana tuh kan tinggi-tinggi, yaiyalaaahh terbang..!, Aska menyerocos heran sama cowok pendiam ini. “Emm... itu gue minum obat tidur, jadi bangun-bangun sampe!’, Pram nyengir sok innocent.
Namun saat besoknya Aska bercerita ke beberapa teman sekelompok, Pram langsung berkata tajam “bisa gak sih mulut di jaga, segala hal yang gue bagi sama lo gak perlu orang laen tau kan?! Ngerti?!”, baru kali ini Aska melihat Pram marah.
*******

Kebiasaan Aska yang selalu membawa makanan di tas membuat Pram hapal dan hobi membongkar isi tasnya untuk mencomot cemilan-cemilan yang Aska bawa. “Pram, kok lo ngerokok sih? Orang tua lo kan dua-duanya dokter?”, suatu hari Aska bertanya satu dari beberapa pertanyaan yang menumpuk di otakku. “Ya, ngerokok kan gue di kampus, kalo dirumah nggak kok”, jawabnya sekenanya. “Trus kenapa lo gak jadi dokter juga? Kan biasanya kalo orang tuanya dokter, anaknya juga jadi dokter?”, pertanyaan di otakku keluar lagi satu. “Apa sih?! Gak selalu harus gitu kan?! Adek gue juga ambil seni kok. Gak masalah! Ngapain sih tanya-tanya?!” seketika Pram langsung sewot. Aska tidak mengerti apa yang membuatnya tiba-tiba marah seperti itu, nadanya tetap tenang, namun pandangannya meperlihatkan permusuhan. Aska terdiam.
Suatu malam Hape Aska berbunyi, ada sms masuk, begitu Aska membukanya,
“Jika aku melupakan engkau, hai Yerrusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”, dan nama Pram terpampang dipengirimnya.
Aska segera membalasnya “Ng? Lagi ngigo ya? Ini kan isi alkitab bukan?”, sent. Tidak lama datang sms balasan “Eh kekirim ya? Eh enggak, gue lagi nyoba aplikasi.”
Esok sore setelah keluar kelas dan teman-teman lesehan di selasar termasuk Aska dan Pram, Aska iseng bertanya “ emang semalem aplikasi apa Pram?”
“Mau tau? Sini..”, Pram menyuruhnya mendekat. “Ini aplikasi Alkitab di hape. Semalem abis donlot, eh kok lo tau kemaren itu dari alkitab?”
“Gue punya kok alkitab di rumah, kata Alm papa dulu, kita belajar itu bisa dari mana aja, biar pertanyaan-pertanyaan di otak kita cukup terjawab. Tapi sampe saat ini masih banyak pertanyaan ‘kenapa dan kenapa’ di otak gue Pram.. Too many ‘why’ words in my head!”
“Gak apa-apa kok banyak pertanyaan.. Itu bagus ka.. Gue suka. Tandanya lo ga cepat puas sama apa yang lo dapetin sekarang.. kalo ada yang bisa gue jawab, gue jawabin deh.”  Seketika cara bicara yang biasanya jutek, jail, menjadi lembut. Aska pun terpana.
“Ya ampunnn Pram so sweet banget ngomongnya...”, Aska nyeletuk dengan polosnya.
“Bisa gak sih gak ngeliatin gue kayak gitu? Jangan diliatin! Gue grogi! Lo pikir gue gak grogi?! Hah?!”, yaah keluar lagi juteknya, sesal Aska.
**********
“Ohh jadi chat di YM nya ternyata sama banyak orang ya? Wooo gituu.. Gue pikir sama gue doang, enak ya yang pake BB onlen terus..”, sindir Pram saat sedang mengecek isi Blackberry Aska. Akhir-akhir ini mereka memang sering chatting di Yahoo! Messenger. Hal itu karena Aska mulai sibuk dengan kuliah dan jarang membalas sms, pulsanya keburu habis untuk langganan bulanan. Pram pun mulai keranjingan online di YM! untuk bertanya-tanya tentang tugas, untuk mereka berdua chatting ataupun untuk sekedar mengirim pesan “Aska.. Gue bosen”
“Lah emangnya gak boleh? Temen messenger gue kan banyak! Anak-anak kampus juga suka ngehubungin lewat YM!?” jawab Aska agak bete karena seolah menurut Pram itu salah. “Lagian kalo sama lo tuh, gue ngetik panjang-panjang, jawabanya secuil!”
“Jadi lo ga suka ka ngobrol sama gue di Messenger?”, wajah Pram berubah serius.
Sebenarnya Aska sedikit mengerti mengapa di dunia maya Pram kaku. YM! satu-satunya media Chatting yang Pram gunakan, itupun karena Aska hasut. Aska sendiri lebih sering berada di jejaring sosial seperti MSN, YM!, facebook, twitter dan beberapa jejaring sosial lainnya.
“Bukannya gak suka Pram, tapi kan males juga gue cerita panjang lebar, jawaban lo maksimal 5 kata doang!, sementara kalo lagi hadep-hadepan gini, juga lebih banyak gue yang ngomong. Berasa ngomong ama tembok tau gak sih?!” Aska Akhirnya mulai meluap emosi yang terpendam selama ini.
“Gue suka kok dengerin lo cerita ka”, jawabnya datar. Selalu datar. Itu yang sering bikin Aska mati gaya ngobrol sama Pram.
“Iya, tapi gue butuh interaktif! Bukan yang kayak gue ngomong tapi ga ada respon. Lo juga Pram, ngerasa gak sih lo? Ato ini Cuma perasaan gue aja yah, sedeket gimana pun kita, tetep kayak ada tembok di sekeliling lo. Lo gak pernah suka saat gue tanya-tentang kehidupan lo, tapi lo tau hampir A ampe Z tentang gue. Kita deket, tapi lo tetep gak tergapai, gak tersentuh. Berasa bertemen ama robot tau gak lo?!”, air mata Aska mulai menggenang di pelupuk mata.
“Udah selese ngomongnya?” Pram bertanya pada Aska yang menundukkan kepala menahan kesal.


                Pram menarik kepala Aska lembut  dan mencium lama keningnya. Aska terdiam dan memandang Pram. “Pram? Kok?” “Bisa gak, gak usah liatin gitu. Gue grogi.” Pram langsung menjawab. “Oke..” Aska kembali menyandarkan kepalanya di bahu Pram. “Gue paham sekarang.. Makasih Pram..”, Jawab Aska tersenyum damai.

Wednesday, December 21, 2011

Bersyukurlah, dan Kamu akan Senantiasa Bahagia

Nada khas Blackberry berbunyi dari dalam tas Ryast, menandakan ada pesan masuk sore itu, “Bebebkuu.. Apakah kalian jadi menginap besok?” disertai simbol tersenyum, pesan dari Riani. Ryast tidak berpikir panjang lagi dan langsung membalasnya, “Udah ijin sama Uti kan Ni? Jadi kok tenang aja.. Kereta Yusar dari Semarang juga baru sampe nanti malem jam 8.. aku sama Vira dateng kerumah kamu jam 5 sore ya.. See You..” Terkirim.
Ping ping... Nada tanda pesan masuk juga menyadarkan Yusar dari lamunannya di kereta. Segera ia membalas pesan tersebut, “Akuuu lagi di keretaa bebeeb Rianiii :D Tunggu aku yaa.. Maklum UnDip Jauhhh.. Fiiuh! Aku akan menginap dan The Pipigies bisa cerita-ceritaa.. Duuh ketinggalan banyak gosiipp nihh.. Haha.. See you!” Terkirim.
Drrttt.. Drrtt... Ponsel Vira bergetar diatas meja belajarnya, Vira langsung mengetik di ponsel layar sentuhnya membalas pesan Riani. “Tenang kok chyiinn, eke pasti bim salabim jam 5 udah sampe rumahh kamuu.. hehehe gak deng sama si Ryast paling berangkatnya. Sampai jumpa besok beb! :* *kecupkecup*”. Terkirim.
Wow asik! Mereka fix jadi nginep.. Gumam Riani. Riani langsung ke bawah untuk memberi tahu Uty nya.
Setelah kembali lagi ke kamar, “Apa ya.. yang ke lupaan.. Oh iya! Ini...”
****
“Soree Utyyyy.. Apa kabar???”, Serempak Yusar, Ryast, dan Vira memberikan salam pada Eyang putrinya Riani. Dulu sewaktu SMA, mereka berempat termasuk Riani sering sekali merepotkan Uty dan meramaikan Rumah Riani dengan acara menginap bareng, barbeque-an bareng, ataupun belajar memasak bersama Uty, yang ujung-ujungnya hanya memberantakkan dapur Uty. Dari kecil Riani memang tinggal serumah dengan Utynya.
“Haii soree cantik-cantik cucu Uty.. Apa kabar kalian? Wah udah pada gede ya sekarang. Tambah cantik-cantik aja..”, ujar Uty sambil mengecup pipi Ryast, Vira, dan Yusar. “Riani nih teman-temannya datang.. Masuk-masuk, udah lama gak pernah main kesini..”
“Hehehe iya Ty, maklum kan udah sibuk kuliah..”, gurau Vira.
“Mau naik aja langsung ke kamar Riani?”, tawar Uty.
“Iyah uty. Kami nginep yaaa..”, izin mereka bertiga ke Uty.
“Hei Rianii si pecintaa kodok, apa kabar beyp?”, tanya Yusar sambil cium pipi kanan dan kiri.
“Alhamdulillah baik. Aahh Yusarr kangen banget gue sama lo. Kalo sama Ryast dan Vira masih sekali – dua kali ketemu di Stasiun ataupun di antara jeda kelas. Itu juga Cuma papasan.”, belum apa-apa Riani langsung curhat.
“Lah kok bisa? Kan lo bertiga satu fakultas?”, Yusar heran.
“Maaf yaa bow! Eke Sibuk teater sih abisnya.. Jadi suka ada dimana-mana deh! Hehehe.. Si Ryast tuh yang sombong! Mentang-mentang kuliah dua jurusan. Ga pernah muncul di jurusannya yang kedua.. Huu...”, Elak Vira sekaligus iseng menyalahkan Ryast.
“Enggak kok Vir.. Sibuk tugas-tugas syuting aja.. Makanya sering cabut dulu di jurusan yang kedua ini..”, jelas Ryast.
“Eh iya, emang jurusan lo yang ke dua apa Yast?”, tiba-tiba Yusar bertanya.
“Sastra Belanda”, jawab Ryast singkat.
“Udah-udah ah jangan berantem, kan malem ini kita mau cerita-cerita. Kangen ya dulu kita sering bergantian cerita di buku.. Inget gak? Haha dari gila-gilaan bareng, sampe masalah personal dan janji-janji kita akan masa depan.. Eh kalian pada laper gak? Turun yuk! Uty udah siapin makan”, lerai Riani sekaligus menawarkan makan malam yang lebih cepat datang.
“Ayuukk lafaarr iniii...”, teriak Vira.
“Apaan sih Vir? Kayak orang cacingan deh laper mulu tapi gak gendut-gendut... hahhaa... Eh! Itu Apa Ni? Bukannya itu...”, pertanyaan Yusar menggantung.
Mereka berempat tersenyum penuh makna.
Riani menjawab senyuman mereka. “Iya. Masih gue simpen. Itu buku Pipigies kita.”
****

Tentang Yusar.. Kehampaan diantara Kecukupan..
“Mama! Pokoknya aku minta jemput sekarang!”, Yusar berteriak di telepon genggam N-gage miliknya.
“Gak perlu pake marah-marah gitu kan Yus ke mama lo.. Pasti di jemput kok.”, Riani menenangkan Yusar yang suka marah-marah tanpa sebab. “Iya tapi harusnya nyokap tau dong, rumah yang sekarang itu jauh! Di Bintaro, gue tuh sampe rumah setiap hari udah jam 9 malem! Padahal dari sini jam 5 lewat!”, gerutu Yusar sambil melahap tusuk sate terakhirnya di kawasan jajanan sebelah sekolah.
“Ya gue pikir mama lo juga gak salah kok, kenapa lo mesti marah-marah deh?”, khas ala Vira yang ceplas ceplos.
“Lo gak ngerti Vir, nyokap tuh gak pernah ngertiin gue! Aargghh! Pokoknya selalu aja apa yang menurut gue bener ditentang.”
Ryast langsung memotong, “Tunggu deh, yang bener menurut lo ditentang atau lo yang gak mau denger penjelasan mama lo dulu?”, Ryast terbiasa untuk bersikap objektif walaupun dia menyadari tidak ada seorangpun yang bisa sepenuhnya objektif.
“Nyokap yang gak dengerin gue yast! Tapi apapun semua yang kakak gue bilang, nyokap setuju! Terus aja yang didengerin kakak gue! Mentang-mentang dah kerja!”, Yusar tetap bersikeras.
“Aneh deh lo Yus, kemaren masih adem ayem aja sama kakak dan mama lo.. Kok sekarang kayak kesambet setan?”, Vira makin bingung dengan tingkah sahabatnya itu.
“Sebenernya walaupun menurut lo, mama lo gak ngertiin lo, tapi sebenernya dia ngertiin lo kok. Dia tau lo capek belajar, makanya kan liburan kemaren lo ke Hongkong. Terus saat penjurusan kemaren lo minta masuk IPS, padahal jelas-jelas lo terdaftar di IPA, akhirnya mama lo mengalah kan?”, Riani berusahak memberi pengertian.
“Aargghh dari dulu juga nyokap hobi ngatur-ngatur gue!”, Yusar tetap bersikeras.
“Contohnya?”, tanya Ryast.
“Dari Awal gue musti masuk SMP manalah, terus masuk SMA manalah, masuk penjurusan yang inilah, sekarang musti kuliah disitulah!”
“Tapi emang buat kebaikan lo juga kan Yus? Ambil hikmahnya juga dong.. buktinya sekarang saat lo dewasa juga nyokap lo kasih lesempatan buat penjurusan ambil IPS kan?”, Redam Riani. Ya,Riani memang selalu menjadi peredam segala emosi sahabat-sahabatnya.
“Tapi itu setelah berantem sana sini dulu! Akhirnya gue yang menang. Kalo aja masih ada bokap pasti gak gini ceritanya!”, curhat Yusar.
“Jadi, lo masih salahin mama lo atas meninggalnya bokap lo? Ayolah Yus, itu udah 10 tahun yang lalu..”, Ryast jadi gemes akan kelakuan manja Yusar.
Vira terdiam.. lalu berkata, “Yus, kita sama kok. Mama kita pejuang mandiri. Berjuang sendiri untuk anak-anaknya. Bokap gue pergi kan waktu gue kelas lima SD, dan gue masih punya dua adik. Gue sedih, tapi gue tau nyokap gue lebih sedih lagi. Tapi, dia harus kuat buat membesarkan lima anak, gue, dua adik gue, serta dua kakak gue.” Seketika ucapan Vira membuat mereka bertiga terdiam.
Vira melanjutkan, “Kalo ditanya kesepian, gue kesepian, tapi gue sadar nyokap lebih kesepian lagi. Gak ada lagi teman hidup berbagi. Pasti nyokap lo juga ada perasaan bersalah karena lo jadi ga bisa merasakan lebih lama bersama bokap, tapi lo banyangin juga deh, betapa kesepiannya nyokap lo? Betapa dia kerja keras untuk memberikan semua yang terbaik buat lo Yus? Sekolah yang bagus, fasilitas supir, materil yang berlebih, Cuma buat lo dan kakak lo. Belajarlah bersyukur Yus.. Sehingga lo bisa rasakan nikmat Tuhan.”
Yusar terdiam lama. Ryast dan Riani ikutan terdiam karena bingung ingin merespon apa. Semua sudah terpaparkan oleh Vira.
Tidak lama...
“Yus, Supir lo jemput tuh...”, Ryas menyadarkan lamunan Yusar.
“Inget tuh apa yang baru gue omongin ke lo Yus, ini karena gue PEDULI. Karena lo sahabat gue!”, sekali lagi Vira menegaskan.
“Hati-hati di jalan, Yus..”, susul Riani.
*****

Tentang Ryast.. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai keinginan..
Ryast berjalan memasuki kelas sambil mengetik di telepon genggamnya dan tersenyum-senyum ceria.
“Ihh Yas! Masih aja maenan sama mantan! Kayak dia disana mikirin lo aja.. Masih orang yang sama dari kita SMP kan yas?”, komentar Vira yang sudah bosan melihat ryast yang tidak pernah bangkit dari kenangan masa lalunya.
“Yaahh abis gimana dong Vir, kita masih temenan kok. Dia kan anak sahabat nyokap.”, keluh Ryast.
“Emang Senova sms apa kali ini?”, Vira selalu menjadi manusia yang penuh rasa ingin tahu.
“Ga.. Dia cuma nanya gue mau kuliah dimana dan ngambil apa.. hehehe”, Ryast tersipu malu. Rasa penasaran Vira belum selesai, “Eamg dia sekarang kuliah dimana?”, “Di Binus, Akuntansi.. Hehehe.. Ga boleh yang di IPB sama mamanya, kejauhan.. Kan papanya udah gak ada Vir..”, Ryast memuaskan rasa ingin tahu Vira.
****
“Lo dah siap buat ujian masuk perguruan tinggi negeri?”, tanya Riani yang dari kemarin resah akan ujian yanng bisa membuat sebagian calonnya belajar giat semangat 45. Hal ini disebabkan pilihan kedua Riani jatuh ke jurusan hukum sebuah kampus negeri di Bandung.
“Harus siap... mau gak mau kan? Ujiannya udah di depan mata..”, jawab Ryast Pasrah. Ya, Ryast pasrah karena kemampuannya hanya di Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk mata pelajaran dasar, sedangkan untuk pelajaran jurusannya, Ryast hanya kuat di Sejarah.
“Semangatt yaaa bebebbkuuu.. aku doakan kalian tembus.. Alhamdulillah ujian mandiri Undipnya aku tembuss.. Heheeh”, Yusar menyemangati dua kawannya yang sedang panas dingin ini. Vira? Dia memang manusia paling pede sedunia. Vira adalah orang yang memengang prinsip “Aku berpikir maka aku ada”, jadi jika kita yakin kita bisa kita pasti bisa.
*****
Hari pengumuman ujian..
Tilulit... Tilulit... “Iya, Vir?”
“Sayaaangg!!! Aku dapet sastranyaa!! Aahh Seneng bangett!! Kamu gimana??” Vira kegirangan di ujung telepon.
“Belum cek Vir... Masih loding lama internetnya..”, Ryast berbohong. Ia sudah mengetahui hasilnya, dan tidak tembus paada ujian masuk perguruan tinggi.
“Ohh gitu.. Mau gue liatin gak? Dirumah gue lagi cepet kok! Kasih nomor ujiannya aja..”, Vira menawarkan ke Ryast. Memang pada tahun mereka pengumuman perguruan tinggi disebarkan melalui internet.
“Gak.. Ga usah.. makasi..” jawab Ryast pelan.
Tidak lama Riani menelpon, “Beb, lo gak apa-apa kan?”. Ya, satu-satunya yang mengetahui nomor ujian Ryast adalah Riani karena dulu mereka mendaftar bersama. Sudah pasti Riani sudah tahu Ryast tidak tembus perguruan tinggi.
“Gue baik-baik aja.. Setidaknya gue berusaha baik-baik aja..”, Ryast meyakinkan. “Gue kayaknya ambil D3 yang kemaren udah lulus aja.. hehehe”, lanjut Ryast.
“Lo jangan bohong deh! Gue udah tau dan gue udah kasih tau ke Vira dan Yusar, soalnya lo pasti ulai bicara sok tenang biar mereka gak khawatir sama lo kan?! Jujurlah! Jangan bicara seolah lo baik-baik aja. Kayak dulu abis di gampar bokap, dan lo kabur dari rumah dan ga kabarin kita, itu malah bikin kita tambah khawatir!”, todong Riani panjang lebar di telepon.
Disertai banyak pesan masuk dari Vira yang Yusar yang isinya kurang lebih sama, menyuruh Ryast tetap sabar, dan bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya.
“Okay! Gue gak baik-baik aja!! Gue gagal! Sementara pasti nyokap banding-bandingin sama kakak perempuan gue yang lulus SPMB dapet psikologi di depok, dan abang gue yang di Teknik IPB! Kurang pecundang apa gue? SMA di sekolah negeri unggulan negeri yang mahal, tapi ga lulus Ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri!”, Tangis Ryast pun pecah di telepon.
“Gue tau kok Yast, lo bukan tipe orang yang kalah perang langsung pulang. Gengsi lo sangat besar. Gue yakin lo akan angkat kepala lo, hadapin semua dan mencari cara lain agar lo gak dipandang sebelah mata, terutama keluarga lo.”, Riani lagi-lagi menenangkan sahabat-sahabatnya.
****
Tentang Vira... Merajut kisah cinta
“AAAAhhhh! Berantem lagi ama rizky!”, jerit rara tiba-tiba di kelas yang sore itu tinggal Yusar, Riani, dan Ryast karena Riani dan Yusar ingin melihat idola mereka bermain basket sore itu, Ega dan Udung.
“Tuh kan Vira.. Kenapa lagi sih? Kali ini siapa yang mulai coba? Lo lagi jangan? Ketauan masih kontak-kontakan lagi jangan-jangan sama mantan?”, tebak Ryast yang sudah hapal hobi tebar pesona temannya sejak masih di bangku SMP ini.
“Bukan itu aja, Yast..”, jawab Vira lesu.
“Whaattt?! Apalagi Vir?”, tanya Yusar tiba-tiba jadi penasaran.
Ihh ituu.. yang masalah ketauan sms itu satu.. yang kedua, kan gue cerita ya kalo temen sekelas kita, si Faris, mirip 95% sama Rizky, eh dia kan langsung jealous ya...”, belum selesai Vira menyelesaikan kalimatnya, Ryast memotongnya, “lagian lo mah udah tau Rizky begitu,pake cerita..”
“Nah bukan itu aja, tadi pas Rizky abis ngedrop gue pagi-pagi ke sekolah, nah ga tau gimana, otak gue kosong aja gitu.. Pas gue mo bilang makasih, eh yang gue bilang “Makasih sayang” itu malah si Faris! Motor Rizky ada di belakang Faris!”, Vira bercerita panik.
Ryast langsung tertawa terbahak-bahak. “Otaknya Vira rusak nih masih pagi padahal!”
“Emang lo ga bisa bedain mana motor Rizky, mana motor Faris Vir?”, Riani takjub dengan sifat sahabatnya yang sering aneh. Padahal Vira sudah 3 tahun berpacaran dengan Rizky, masih saja bisa tertukar sama orang lain.
“Mana bisa kalo motornya sama-sama vespa! Sama-sama pake jaket kulir, sama-sama pake helm kayak di film Janji Joni gitu.”, Vira membela diri.
“Wuih! Ajaib! Kok bisa gitu Vir? Hahaha mungkin emang Faris kloningannya Rizky kali!”, canda Yusar.
“Ah tau ah pusing...”, Vira menjawab lemas.
****

Jam istirahat ke-dua sekolah mereka tiba. Setelah menunaikan sholat Dzuhur, Ryast melihat Vira masih menekuk mukanyadan tidak mau berbicara kepada siapapun. Ryast tahu cara membuat Vira tersenyum lagi.
Udah deh jangan murung mulu!”, sela Ryast. “Nih baca!”, ryast menyodorkan ponselnya. Vira pun membaca sms di ponsel Ryast,
“Bkn gw ga syg Vira, Yast. Gw udah ga mrh kok sm dia, gw cm mau dia brubah jd lbh baik. Ga ceroboh mulu. Masa iya udah 3 taun pcrn bs ketuker sih gw sm cowo laen? Pecicilan bgt sih anaknya, sembrono. Gw mau dia memperbaiki diri. Tp gw udah ga mrh kok J hehehe..”
“Loh kok Yast? Rizky sms lo?”, Vira bingung kenapa pacarnya malah mengubungi sahabatnya, dan bukan dirinya.
“Yaiyalah Vir, dia kan ojek gue! Hahaha”, jawab Ryast santai. Ryast juga merupakan teman Rizky. Ryast, Vira, dan Rizky dulunya bersekolah di SMP yang sama.
“Ah sial! Eh tapi emang lo smsan apa aja ama Rizky?”, todong Vira, tapi kiri wajahnya sudah tersenyum sumringah.
“Adaa deh.. Yang penting lo baikan kan ama Rizky.. Daripada ngeliat muka tuh di tekuk mulu dari pagi. Heran...”, Ryast sok misterius menanggapi sahabatnya. Sebenarnya sejak tadi pagi Vira bercerita tentang pertengkaraannya, Ryast langsung menghubungi Rizky meminta penjelasan. Ryast sudah hapal, sekalinya Vira bete, maka ia bisa membuat mereka berempat bete seharian dengan tingkah laku Vira yang mendadak menyebalkan.
Riani hanya senyum-senyum melihat Ryast yang bisa mengubah murungnya Vira dalam sekejap. “Nih ada roti goreng kesukaan lo nih, tadi dibekelin sama nyokap buat kita berempat”, Riani menawarkan bekalnya.
Yusar yang melihat perasaan Vira sudah mulai membaik, juga menawarkan bekalnya. “Eh iya nih ada cokelat dai Belanda juga nih! Sepupu gue baru balik dari sekolah di Belanda”.
Riani si Ibu Bijak Masa Kini memberi wejangan ke Vira, “Makanya Vir, jadi orang itu wajib teliti. Jangan maen nempel sana sini aja. Diliat dulu bener gak orangnya. Jangan ceroboh ah. Malu udah mau lulus SMA.”
****

Tentang Riani.. Dongeng tidak selalu diakhiri dengan hal yang bahagia..
“... Yaudah lah.. hidup itu gak boleh ngoyo.. Bersyukur sama yang udah di kasih Tuhan..”
Nasihat dan pedoman dari mamanya itu yang terus Riani tanamkan dalam dirinya. Riani sadar, manusia itu hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan.
“Pak, pak! Tunggu jangan tutup dulu pagernya! Saya sampeeee!!”, Riani berteriak dan turun dari ojeknya. “Telat lagi non?”, kata Satpam sekolah kami yang baik hati. “Iya pak, macet di pasar minggu! Makasih ya pak gak kunciin saya, jadi gak dipulangin deh sama sekolah..”, masih dalam keadaan susah nafas riani menjawab Pak satpam.
“Yeaayyy Riani gak telat! Gak dikunciin kan??”, tanya Yusar histeris gembira. “Ya maklumlah Yus, rumah gue kan di Depok. Lo enak ada si sopir, pak Ucup, jam 6 tepat sampe deh di sekolah.” gerutu Riani sambil menyisir rambutnya yang kusut.
“Hahaha masih bagus Riani telat karena rumahnya jauh. Ini vira rumahnya lima menit dari sekolah aja, telat mulu.. Tuh liat, seperti biasa..”, canda Ryast yang sudah hapal kelakuan Vira karena mereka berdua berteman sejak SMP.
“Hahaha... dududu sangking deketnya sih! Gimana yah! Kan naek ojeg cepet! Kecuali kalo ujan, udah becek gak ada ojek! Hehehe..”, Vira mengelak dengan gaya centilnya.
“Riani! Nanti kan Ega mau dateng! Tanding basket! Sama Bernie dan Udung!”, Yusar yang sangat mengagumi kakak kelas mereka yang sudah lulus berkata kegirangan.
“Yaahh Adhi ga ada sih.. Dia kan ambilnya di UnDip..”, Ryast kecewa karena senior daj juga gebetannya sudah dipastikan tidak akan datang ke sekolah mereka.
“Pasti mereka bakal maen basket! Mau nonton! Tapi jangan lama-lama ya. Nyokap ngajak pulang bareng. Paling nanti ketemuan di restoran biasa sekalian makan malem.”, jelas Riani.
****
 “Ma? Ini? Kok? Maksudnya apa? Siapa?”, Riani bertanya kepada mamanya akan pria itu. Pria itu, Riani samar-samar mengingatnya. Namun, ia tidak ingat dimana dan kapan. Semuanya terasa seperti jam pasir yang berjalan mundur. Kenangan-kenangan itu, suara almarhum kakeknya kembali menggema di kepalanya “Udah berenti nangis! Kamu masih punya eyang kakung! Jangan pernah nagis lagi!”
“Ini papa, sayang.. Kamu masih inget papa kan?”, ujar pria itu lembut sambil menghampiri Riani. “Stop! Jangan sentuh aku! Aku ga kenal! Aku gak tau! Aku gak mau tau! Tolong berenti disitu!”, Riani yang biasa tenang menghadapi apapun, tiba-tiba menjerit histeris.
“Itu papa kamu sayang.. Maaf mama gak kabarin kamu sebelumnya, maaf mama tiba-tiba ngajak kamu makan disini. Papa pengen ketemu kamu, nak”, mama Riani mencoba memberi pengertian.
“Gak gini caranya ma! Kemana dia 13 tahun ini?! Kemana? Mama sendirian kan biayain aku, membesarkan aku! Kemana dia ma?! Gak! Aku udah anggep papa udah gak ada! Udah pergi!”, baru kali ini Riani membentak mamanya. “Sayang kamu gak boleh gitu.. Biar bagaimana pun, itu tetap papa kamu. Di dalam diri kamu ada darah papa kamu, nak. Tolong jangan salahin mama kayak gini. Mama minta maaf. Nak..”, mamanya menangis melihat anaknya sangat terluka.
“Gak begini caranya ma! Aku bahagia kok sama kehidupan kita yang sekarang! Mama pikir aku gak malu tiap orang tanya, Riani mana papanya? Tapi aku tetap tegar! Aku masih punya Eyang kakung!”, emosi Riani semakin menjadi-jadi.
“Nak..”, ayahnya berusaha memanggilnya.
“Aku mau pulang. Mama pulang sama aku, atau aku pulang sendiri!”, riani beranjak dari meja makan dan berlari keluar restoran.
*****
Tengtengteng....
“Haahh edan ya ulangan matematika di jam terakhir! Abis ini pulang ah! Ngantuk, capek otaknya terkuras abis!”, seperti biasa Ryast yang lemah di matematika langsung berkicau.
“Gak mau liat Ega main basket dulu Riani?”, pancing Vira yang menyadari seharian ini Riani diam membisu.
“Yast, Vir, Yus.. Gue gak pengen pulang kerumah hari ini...”, ucap Riani putus asa.
Serempak mereka bertiga terkejut dengan pengakuan riani.
“APAAA?!!!!”

The Pipigies Book
“Hai buku Pipigies.. Sekarang kami memang bukan remaja lagi, kami sudah kuliah J.. senang ya? Kami sudah semester tiga dan Ryast di kuliahnya yang satu lagi baru semester satu! Hihihi.. Tapi kami yakin Ryast akan berjuang.. Akan selalu berjuang.. dia sudah membuktikan dia berjuang untuk kegagalan SNMPTNnya tahun kemarin. Vira dengan Rizky sudah lima tahun pacaran loh! Mereka sudah sangat memahami satu sama lain, sehingga bertengkarnya sudah mulai berkurang. Semoga selalu awet ya Vira sayang! Riani semakin tegar menjalani hidupnya. Dia sudah sangat menerima kalau Ayah yang telah 13 tahun meninggalkan Riani serta mamanya dan muncul saat ulang tahunnya ke-16 kemarin, sekarang selalu hadir di kehidupannya, walaupun dengan keluarga beliau yang lain. Yusar “si tempramen” sekarang sudah mulai dewasa. Ya sudah saatnya dia dewasa, dan menerima kepergian papanya ke sisi Tuhan saat dia berumur tujuh tahun bukan kesalahan mamanya karena tidak berjuang untuk papanya, tetapi karena hal itu telah menjadi keputusan Tuhan.
Pipigies.. Sekarang kami memang bukan remaja lagi.. Kami berempat bersyukur pernah merasakan lika-liku remaja, rasanya deg-degan cinta monyet dengan kakak kelas, kebahagiaan saat kami mendapatkan usia 17 tahun dan merasa berhak mendapat kebebasan, harapan-harapan kami akan diri kami di masa depan, kepedihan problematika remaja yang kami bagi bersama, kegagalan demi kegagalan yang tidak pernah membuat kami berhenti berjuang dan berbagai kekecewaan akan hidup ini yang kami hadapi dengan ketegaran dan senyuman. Kami nyatakan kami TIDAK menyesal dengan masa remaja kami. Semoga Segala warna-warni remaja dapat kami bagi kisahnya ke anak-anak kami nanti.”
#PS: nama Pipigies sepakat kami ubah menjadi “Peri-peri Gosip”, karena kami bukan lagi remaja pencinta barang-barang Power Puff Girls.. hihihi..
Yang tak terlupakan,
Riani Putri
Ryast Sastrowiranu
Vira Ramadhan
Yusar Singgih