Saturday, January 28, 2012

“Kepada langit,
Seandainya bisa, saya ingin minta tolong sampaikan isi surat ini. Tentang apa yang saya lakukan hari ini, disini, apa yang saya rasakan di taman ini, dan bagaimana sampai saya bisa berada di taman ini. Tolong sekali ya langit, karena bahkan sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Tolong sampaikan kalau saya membutuhkan dia. Itu saja.
DRK”
 
#NowPlaying Snow Patrol – Chasing Cars                                            20.00 WIB, Taman Menteng
"We'll do it all, Everything, On our own
We don't need, Anything, Or anyone

If I lay here, If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?

I don't quite know, How to say, How I feel
Those three words, Are said too much, They're not enough

Forget what we're told, Before we get too old
Show me a garden that's bursting into life

Let's waste time, Chasing cars, Around our heads
I need your grace, To remind me, To find my own

All that I am, All that I ever was
Is here in your perfect eyes, they're all I can see

I don't know where, Confused about how as well
Just know that these things will never change for us at all

If I lay here, If I just lay here
Would you lie with me and just forget the world?"


Rafsa kembali terduduk di tempat ini. Tempat yang lebih dari satu bulan atau mungkin 2 bulan, tidak ia datangi bersama Tara. Tempat ini hanya berupa sebuah parkiran bertingkat. Tempat penuh kenangan bagi Rafsa ini terletak di tingkat paling atas, beratapkan langit. Sejujurnya, tempat ini hanya parkiran sederhana, namun tempat ini menampung sangat banyak kenangan persahabatan mereka. Rasa sesak kembali menyesapi Rafsa. Entah karena udara dingin, ataupun karena rasa kehilangan yang sangat besar. Rafsa memutuskan menuliskannya di secarik kertas, ditujukan kepada langit malam ini :

“Kepada langit,
Seandainya bisa, saya ingin minta tolong sampaikan isi surat ini. Tentang apa yang  saya lakukan hari ini, disini, apa yang saya rasakan di taman ini, dan bagaimana sampai saya  bisa berada di taman ini. Tolong sekali ya langit, karena bahkan sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Tolong sampaikan kalau saya membutuhkan dia. Itu saja.
                                                                                                                                                DRK”
Rafsa memperhatikan surat itu sekali lagi. Menahan tangisnya jangan sampai keluar. Tidak. Tidak ada lagi yang boleh membuatnya menangis. Tidak oleh apapun. Oleh siapapun. Meskipun Rafsa tahu, semakin di pendam rasa pedih ini, justru semakin terluka hatinya. Rafsa kemudian melipat kertas tersebut menjadi sebuah pesawat-pesawatan kertas. Kemudian ia berdiri dan menyandarkan diri pada tembok pembatas di parkiran bertingkat lima ini.
Sebelum menerbangkan pesawat-pesawatan kertasnya, Rafsa berdoa;  Langit, saya tidak tahu bagaimana kau akan menyampaikan pesan ini, melalui hembusan angin, gemersik dedaunan, atau sekalipun melalui rintikan hujan. Saya tidak tahu. Saya hanya berharap pesan ini tersampaikan. Terima kasih langit.
Dalam malam yang hening, hanya terdengar isakan halus tangis Rafsa. Tangis yang pada akhirnya tak sanggup lagi dibendungnya. Waktu telah menunjukkan jam 10 malam, dan pesan pesan BBM lagi-lagi hanya telah menunjukkantanda telah dibaca oleh Tara, namun tak ada balasan. Tidak pernah ada lagi.  Sejak beberapa minggu yang lalu. Ratusan pesan BBM pun seperti buah yang ranum di pepohonan tanpa ada seorangpun yang memetik hinggamembusuk di pohonnya. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi ini hanya persahabatan. Oh tidak. Dalam kamus Rafsa, persahabatan bukan hanya, tapi segalanya. Tapi apakah ini ternyata juga cinta?

****


Tara
#NowPlaying – Peter Pan – Menghapus Jejakmu
"lelah hati perhatikan sikapmu, jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan

perlahan mimpi terasa mengganggu, kucoba untuk terus menjauh
perlahan hatiku terbelenggu, kucoba untuk lanjutkan hidup

engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku
usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu"

Gol demi gol dicetak Tara di lapangan futsal ini. Seperti biasa Tara menghabiskan Kamis malamnua di lapangan ini.  Juga, malam ini. Telah lebih dari 1 minggu pula Tara tidak menghubungi Rafsa. Bukan karena marah, ataupun benci. Namun, ia takut akan harapan yang terlalu tinggi itu berbuah patah hati.
“Rasf, lo apa kabar? Pasti lo marah banget deh sama gue. Tinggalin lo tiba-tiba. Semoga lo baik-baik aja Rafs.”
Tara hanya memandangi foto Rafsa di BBMnya. Tara tersenyum dengan tingkah aneh-aneh Rafsa jika di depan kamera. Hanya memandanginya. Sudah cukup bagi Tara. Meski banyak BBM yang masuk dari Rafsa, taidak ada yang digubrisnya, walau satu. Mulai dari isi pesan Rafsa yang berbunyi kebiingungannya mencari Tara, isi pesan Rafsa yang sok melucu, isi pesan Rafsa yang mengkhawatirkannya; isi pesan yang marah-marah, hingga isi pesan Rafsa yang berbunyi :
“Taaarrr... Gue ngerti kok lo butuh waktu buat sendiri. Lo butuh waktu untuk berdamai dengan perasaan lo.. Gue care sama lo, tapi kalo lo cuekin gue gak ada sebab gini, buat apa gue tetep care? Mulai detik inigue gak akan peduli lagi sama lo. Karena persahabatan kita udah gak jelas kayak musuhan gini. Gak ada gunanya.”
Pesan tersebut baru Tara baca setelah sampai dirumahnya. 22.00 WIB. Tara memandang jam digital di meja belajar di kamarnya.
Kalau harus jujur pada diri sendiri, Tara juga merasa sangat kehilangan peri yang membuat hari-harinya hidup kembali. Peri keceriaannya Tara yang selalu menyebut diri sendiri malaikat. Mungkin Rafsa memang malaikat. Malaikat buat semua teman-temannya, semua orang. Bukan malaikat buat dirinya seorang, buat Tara. Tapi itu inti masalahnya. Kemari-kemarin, selama 1 bulan Rafsa telah mengisi hari-harinnya pagi, siang dan malam. Sahabat. Ya, itu masalahnya. Rafsa memang telah berhasil mengobati luka hati Tara akan mantannya, Rafsa memang tipe sahabat yang peduli dengan sahabatnya. Hanya sampai titik sahabat. Mentok. Dofani Rafsa Kinanti!!! Kehadirannya yang intens, perhatiannya yang sangat cukup, telah meracaukan hidup Tara. Terutama hatinya. Tara tahu hanya akan ada luka jika persahabatan ini tetap dilanjutkan. Bukan luka pada Rafsa. Melainkan pada dirinya. Hatinya.
Beebb Beeebbb....


Dofani Rafsa Kinanti - loner :(
22.30 WIB
o  Tara tarra taaaraaaa
o  Masih butuh waktu sendirian?
o  Gue kesepian :(




****
3 minggu yang lalu...

Dofani Rafsa Kinanti - It’s Ma day!!!
Kata orang-orang ahli ngeramal, dan kata zodiak di majalah manapun, orang-orang yang yang berzodiak Cancer pasti tidak akan cocok dengan lawan jenisnya yang berzodiak Aquarius. Tetapi tidak bagi Rafsa. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan Rafsa merasa hari ini segalanya berjalan dengan sempurna. Ucapan ulang tahun dari teman-temannya baik melalui sms, telpon, jejaring sosial, dan BBM. Ditambah sang pedekate-an, begitulah Rafsa menyebutnya, juga mengucapkan selamat ulang tahun via Y!Messengger. Cowok ya sangat dikagumi oleh Rafsa memang sangat kaku, namun seringkali ia melakukan banyak hal yang membuat Rafsa tersanjung.
Yang juga membuat hari ini tambah lengkap adalah sahabatnya, sahabat pria, yang hampir satu bulan ini menemani hari-harinya ditengah kesibukan skripsi yang amat menggila.
Krriiing... krriiiing... penanda ada BBM masuk.

Tara Alinnga Wibisono - Cake's Day Dreamer! :)
06.43 WIB
o  Selamat ulang tahun  pemimpiii
o  Selamat ulang tahun  boneka beruang
o  Selamat ulang tahun malaikat keceriaan
o  Semoga di usia yang bertambah,
o  Sifatnya juga tambah dewasa, gak ngambek mulu,
o  Dan bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi lo
o  Biar jadi kenyataan..
oSayang sekali sama Rafsa :* nge date yuk!



Friday, January 27, 2012

Untouchable Man, “I don’t need words”

“Ayo As! Olahraga As! Olahraga! Biar kurus katanya mau kurus kayak geng cantik-cantik itu... “, sindir Pram yang mengajak Aska jalan kaki dari kostan temen di Margonda menuju kampus di bilangan Depok. Sementara Aska yang bertubuh padat sudah ngos-ngosan jalannya, hari itu mereka di kejar quiz di kelas yang sebentar lagi akan mulai.
Pramoedya namanya, dan dia selalu berkata, “Aska, anggep aja gue Pramoedya Ananta Toer, idola lo itu..”, sambil tersenyum menggoda. Tentu saja itu hanya sekedar harapan kosongnya.
“ASKA! Woi! Kok bengong?! Lo gak mau pingsan kan? Repot tar gue gotongnya.. hehehe”, lalu sebelum Aska sempat sadar dengan leluconnya dia sudah lari kabur..
“PRAAAMMM!!!!”, Aska pun berlari mengejarnya.
Aska sudah hampir setahun berteman dengan Pram, mulai awal semester 3 ini saat kita tergabung dalam suatu kelompok tugas kuliah yang terikat selama satu semester. Saat ini, semester 6, kami berada di kelompok yang sama lagi. Mentok kali ya tidak ada kelompok lagi?! Hehehe.
*************************
“Pram, nanti malem confrence ya di YM! Kita harus ngebahas nih kelanjutan tugas! Gue juga dah ajak Maya, Tama, en Haqi. Gue balik duluan ya,” seru Aska sambil melambaikan tangan saat jam kuliah selesai. “Lu gak pulang ke kostan ka?” tanya Pram. “Gak, nyokap sendirian dirumah, kakak gue dua-duanya lagi tugas di luar kota. Sorry ya, ketemu di internet aja.” Aska tersenyum meminta pengertian.
“Oke-oke hati-hati ya ka di jalan! Jangan sambil maen hape!” Pram mengingatkan.
Hampir satu tahun Aska berteman dengan Pram. Namun, Aska tidak tahu banyak tentangnya. Ada sisi lain dari dirinya yang tak bisa Aska kenali. Pram begitu pendiam, atau lebih tepatnya dia seperti berjalan dengan pikirannya sendiri. Pram tidak pernah mencampuri urusan orang lain dan tidak pernah ketergantungan sama orang lain, baik ke kantin, mau ke kampus, ke kelas, maupun pulang balik ke kostan atau ke rumah. Keberadaannya pun saat tingkat satu antara ada dan tiada. Aska hanya mengetahui dia bernama Pramoedya. Hanya itu.
Setelah sekarang mereka berteman, informasi-informasi tentang dirinya bahkan hanya datang dari ucapan-ucapan yang tidak Pram sadari saat tengah bercerita-cerita. Mereka dekat, namun sosok seorang Pram tetap tak tergapai. Sedekat-dekatnya siapapun dengan Pram, ya hanya sebatas ngumpul di kelas, bahas tugas, gadget, fotografi, game dan hal-hal berbau cowok lainnya.
Pernah Aska mengorek-ngorek dari Haqi, salah satu yang dekat dengannya, “Haq, Pram suka cerita-ceritaan sama lo kayak gue sama Maya gak sih? Soal pacar, mantan gitu-gitu.. kayak lo kan terbuka tuh barusan cerita-cerita tentang lo dulu SMA dan tentang mantan lo.. hehehee”, jujur saat itu Aska kepo sekali. Haqi hanya menjawab “Gak, gak pernah kayak kita bertiga barusan cerita-cerita, dulu pernah gue iseng nanya tentang mantannya.. ya jawabannya rada gak enaklah.. kayaknya dia ga mau ungkit-ungkit tentang mantannya gitu..” Woooooww mereka bertiga memang sekawanan kepo!
Waktu akhir semester 5, saat Aska bercerita-cerita bahwa Maya akan backpacking ke Bangkok dan Chiang Mai, Pram mengatakan “Gue juga mau ke Kamboja ka. Mau ke Siam Riep. Lo ga kemana-mana libur 1 bulan?”, Aska hanya menggelang lesu. Tidak mungkin Aska liburan sementara urusan kuliahnya di tempat yang lain belum terselesaikan. Dari situlah Aska mengetahui, Pram hoby ke luar negeri mengunjungi tempat-tempat sejarah. Persepsi Aska tentang Pram, sudah pasti dia berwawasan luas.
*************************
Kesibukkan tugas-tugas kuliah berkelompok mengakibatkan Aska menjadi lebih sering bersama Pram. Dari riset-riset untuk produksi film, mencari data dan urusan administrasi lainnya. Mereka sering bepergian berdua menggunakan kereta, angkot, dan bis. Sepanjang perjalanan Aska pun mendapatkan hal-hal baru dari Pram, diantaranya, dia suka menggigit kuku-kuku di jari tangannya saat gugup dan bingung, dan yang paling lucu adalah saat dia bertingkah seperti anak kecil saat sedang berada di lantai 19 sebuah gedung untuk urusan tugas kuliah. “Aska, gimana kalo kita nunggu kliennya di lobby bawah aja?” “Aska, gimana kalo kita beli minum dulu di bawah?” “Aska, gimana kalo lo aja yang ketemu klien, gue tunggu di bawah?” dan akhirnya Pram mengakui kalau dia sangat takut pada ketinggian dan gedung-gedung tinggi.
“Lah tiap naek pesawat keluar negeri, gimana tuh kan tinggi-tinggi, yaiyalaaahh terbang..!, Aska menyerocos heran sama cowok pendiam ini. “Emm... itu gue minum obat tidur, jadi bangun-bangun sampe!’, Pram nyengir sok innocent.
Namun saat besoknya Aska bercerita ke beberapa teman sekelompok, Pram langsung berkata tajam “bisa gak sih mulut di jaga, segala hal yang gue bagi sama lo gak perlu orang laen tau kan?! Ngerti?!”, baru kali ini Aska melihat Pram marah.
*******

Kebiasaan Aska yang selalu membawa makanan di tas membuat Pram hapal dan hobi membongkar isi tasnya untuk mencomot cemilan-cemilan yang Aska bawa. “Pram, kok lo ngerokok sih? Orang tua lo kan dua-duanya dokter?”, suatu hari Aska bertanya satu dari beberapa pertanyaan yang menumpuk di otakku. “Ya, ngerokok kan gue di kampus, kalo dirumah nggak kok”, jawabnya sekenanya. “Trus kenapa lo gak jadi dokter juga? Kan biasanya kalo orang tuanya dokter, anaknya juga jadi dokter?”, pertanyaan di otakku keluar lagi satu. “Apa sih?! Gak selalu harus gitu kan?! Adek gue juga ambil seni kok. Gak masalah! Ngapain sih tanya-tanya?!” seketika Pram langsung sewot. Aska tidak mengerti apa yang membuatnya tiba-tiba marah seperti itu, nadanya tetap tenang, namun pandangannya meperlihatkan permusuhan. Aska terdiam.
Suatu malam Hape Aska berbunyi, ada sms masuk, begitu Aska membukanya,
“Jika aku melupakan engkau, hai Yerrusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”, dan nama Pram terpampang dipengirimnya.
Aska segera membalasnya “Ng? Lagi ngigo ya? Ini kan isi alkitab bukan?”, sent. Tidak lama datang sms balasan “Eh kekirim ya? Eh enggak, gue lagi nyoba aplikasi.”
Esok sore setelah keluar kelas dan teman-teman lesehan di selasar termasuk Aska dan Pram, Aska iseng bertanya “ emang semalem aplikasi apa Pram?”
“Mau tau? Sini..”, Pram menyuruhnya mendekat. “Ini aplikasi Alkitab di hape. Semalem abis donlot, eh kok lo tau kemaren itu dari alkitab?”
“Gue punya kok alkitab di rumah, kata Alm papa dulu, kita belajar itu bisa dari mana aja, biar pertanyaan-pertanyaan di otak kita cukup terjawab. Tapi sampe saat ini masih banyak pertanyaan ‘kenapa dan kenapa’ di otak gue Pram.. Too many ‘why’ words in my head!”
“Gak apa-apa kok banyak pertanyaan.. Itu bagus ka.. Gue suka. Tandanya lo ga cepat puas sama apa yang lo dapetin sekarang.. kalo ada yang bisa gue jawab, gue jawabin deh.”  Seketika cara bicara yang biasanya jutek, jail, menjadi lembut. Aska pun terpana.
“Ya ampunnn Pram so sweet banget ngomongnya...”, Aska nyeletuk dengan polosnya.
“Bisa gak sih gak ngeliatin gue kayak gitu? Jangan diliatin! Gue grogi! Lo pikir gue gak grogi?! Hah?!”, yaah keluar lagi juteknya, sesal Aska.
**********
“Ohh jadi chat di YM nya ternyata sama banyak orang ya? Wooo gituu.. Gue pikir sama gue doang, enak ya yang pake BB onlen terus..”, sindir Pram saat sedang mengecek isi Blackberry Aska. Akhir-akhir ini mereka memang sering chatting di Yahoo! Messenger. Hal itu karena Aska mulai sibuk dengan kuliah dan jarang membalas sms, pulsanya keburu habis untuk langganan bulanan. Pram pun mulai keranjingan online di YM! untuk bertanya-tanya tentang tugas, untuk mereka berdua chatting ataupun untuk sekedar mengirim pesan “Aska.. Gue bosen”
“Lah emangnya gak boleh? Temen messenger gue kan banyak! Anak-anak kampus juga suka ngehubungin lewat YM!?” jawab Aska agak bete karena seolah menurut Pram itu salah. “Lagian kalo sama lo tuh, gue ngetik panjang-panjang, jawabanya secuil!”
“Jadi lo ga suka ka ngobrol sama gue di Messenger?”, wajah Pram berubah serius.
Sebenarnya Aska sedikit mengerti mengapa di dunia maya Pram kaku. YM! satu-satunya media Chatting yang Pram gunakan, itupun karena Aska hasut. Aska sendiri lebih sering berada di jejaring sosial seperti MSN, YM!, facebook, twitter dan beberapa jejaring sosial lainnya.
“Bukannya gak suka Pram, tapi kan males juga gue cerita panjang lebar, jawaban lo maksimal 5 kata doang!, sementara kalo lagi hadep-hadepan gini, juga lebih banyak gue yang ngomong. Berasa ngomong ama tembok tau gak sih?!” Aska Akhirnya mulai meluap emosi yang terpendam selama ini.
“Gue suka kok dengerin lo cerita ka”, jawabnya datar. Selalu datar. Itu yang sering bikin Aska mati gaya ngobrol sama Pram.
“Iya, tapi gue butuh interaktif! Bukan yang kayak gue ngomong tapi ga ada respon. Lo juga Pram, ngerasa gak sih lo? Ato ini Cuma perasaan gue aja yah, sedeket gimana pun kita, tetep kayak ada tembok di sekeliling lo. Lo gak pernah suka saat gue tanya-tentang kehidupan lo, tapi lo tau hampir A ampe Z tentang gue. Kita deket, tapi lo tetep gak tergapai, gak tersentuh. Berasa bertemen ama robot tau gak lo?!”, air mata Aska mulai menggenang di pelupuk mata.
“Udah selese ngomongnya?” Pram bertanya pada Aska yang menundukkan kepala menahan kesal.


                Pram menarik kepala Aska lembut  dan mencium lama keningnya. Aska terdiam dan memandang Pram. “Pram? Kok?” “Bisa gak, gak usah liatin gitu. Gue grogi.” Pram langsung menjawab. “Oke..” Aska kembali menyandarkan kepalanya di bahu Pram. “Gue paham sekarang.. Makasih Pram..”, Jawab Aska tersenyum damai.